WARTA 24 GORONTALO

Daftar Gratis!

Ketikan alamat email anda. Gratis!

Delivered by FeedBurner

KPK: Commitment Fee ke Bupati HST Kalsel Diduga Rp 3,6 Miliar

Posted by On Januari 06, 2018

KPK: Commitment Fee ke Bupati HST Kalsel Diduga Rp 3,6 Miliar

Jumat 05 Januari 2018, 16:43 WIB KPK: Commitment Fee ke Bupati HST Kalsel Diduga Rp 3,6 Miliar Haris Fadhil - detikNews KPK: Commitment Fee ke Bupati HST Kalsel Diduga Rp 3,6 MiliarKetua KPK Agus Rahardjo (Foto: Ari Saputra/detikcom) Jakarta - KPK menduga commitment fee atau uang komitmen suap untuk Bupati Hulu Sungai Tengah, Kalimantan Selatan (HST Kalsel) Abdul Latif yaitu Rp 3,6 miliar. Dia diduga menerima suap terkait pembangunan RSUD Damanhuri di wilayahnya.
"Dugaan commitment fee proyek ini adalah 7,5 persen atau sekitar Rp 3,6 miliar," ucap Ketua KPK Agus Rahardjo di kantornya, Jalan Kunin gan Persada, Jakarta Selatan, Jumat (5/1/2018).
Ada 4 orang yang ditetapkan KPK sebagai tersangka yaitu Abdul Latif selaku Bupati HST Kalsel, Fauzan Rifani selaku Ketua Kadin HST Kalsel, Abdul Basit selaku Direktur PT Sugriwa Agung, dan Donny Witono selaku Direktur Utama PT Menara Agung. Latif, Fauzan, dan Abdul diduga sebagai penerima, sedangkan Donny adalah pihak yang memberikan suap.
Realisasi pemberian itu disebut KPK terbagi menjadi 2 termin. Termin pertama yaitu pada rentang September-Oktober 2017 sebesar Rp 1,8 miliar dan termin kedua pada 3 Januari 2018 sebesar Rp 1,8 miliar.
"Sebagai komisi, DON (Donny Witono) melakukan transfer ke FRI (Fauzan Rifani) sejumlah Rp 25 juta," imbuh Agus.
Barang bukti yang diamankan KPK yaitu rekening koran atas nama PT Sugriwa Agung dengan saldo Rp 1,825 miliar dan Rp 1,8 miliar, uang dari brankas di rumah dinas Latif sebesar Rp 65.650.000, dan uang dari tas Latif sebesar Rp 35 juta.
"Diduga pemberian sebagai fee proyek pembangunan ruang kelas I, kelas II, VIP dan Super VIP di RSUD Damanhuri," ucap Agus.
Atas perbuatannya, Latif, Fauzan, dan Abdul dijerat dengan Pasal 12 ayat 1 huruf a atau huruf b atau Pasal 11 Undang-Undang nomor 31 tahun 1999 sebagaimana diubah dengan Undang-Undang nomor 20 tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 ayat 1 ke-1 juncto Pasal 64 ayat 1 KUHP.
Sedangkan, Donny dijerat dengan Pasal 5 ayat 1 huruf a atau huruf b atau Pasal 13 Undang-Undang nomor 31 tahun 1999 sebagaimana diubah dengan Undang-Undang nomor 20 tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 64 ayat 1 KUHP.
(dhn/dhn)Sumber: Google News | Warta 24 Gorontalo Utara

Next
« Prev Post
Previous
Next Post »