WARTA 24 GORONTALO

Daftar Gratis!

Ketikan alamat email anda. Gratis!

Delivered by FeedBurner

Listrik padam lebih dari 10 kali sudah biasa di luar Jawa

Posted by On Desember 14, 2017

Listrik padam lebih dari 10 kali sudah biasa di luar Jawa

UNTUK INFORMASI LEBIH LENGKAP, IKUTI KAMI DI MEDIA SOSIAL

Petugas berjalan dekat solar panel Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) yang akan diresmikan di Pulau Karampuang, Mamuju, Sulawesi Barat, Jumat (8/12/2017).
Petugas berjalan dekat solar panel Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) yang akan diresmikan di Pulau Karampuang, Mamuju, Sulawesi Barat, Jumat (8/12/2017).
© Akbar Tado /Antara Foto

Pemadaman listrik bergilir di luar Jawa selama tahun 2016 masih kerap terjadi akibat pasokan listrik yang defisit. Megaproyek pun diluncurkan, tetapi be berapa tantangan muncul, misalnya risiko pembiayaan, dan dampaknya terhadap lingkungan.

Warga Desa Pasir Panjang, Kecamatan Arut Selatan di Pangakalan Bun, Kalimantan Tengah turut menjadi korban listrik yang mati mendadak selama beberapa jam saban minggunya. Warga pun pasrah karena hal itu jadi semacam kebiasaan.

"Hari Rabu kemarin (13/12/2017) mati lampu dari jam 09.00 WITA dan baru nyala sekitar jam 15.00 WITA. Beberapa kantor pemerintahan juga mati. Enam jam mati lampu jadi pasrah dan akhirnya semua kegiatan terganggu," kata warga Pasir Panjang, Alam Surya Anggara (26), ketika dihubungi Beritagar.id.

Listrik mati bukan yang pertama buat Alam. Saban minggu minimal satu jam ia tak dapat beraktivitas lantaran tak ada listrik.

"Mati listrik memang sudah lama dan bukan cuma tahun ini," katanya. Bahkan di sejumlah wilayah lain seperti di Kecamatan Arut Utara, listrik belum sepenuhnya mengalir.

Data yang diolah Tim Lokadata Beritag ar.id dari Survei Sosial dan Ekonomi Nasional, Badan Pusat Statistik (BPS) September 2016 menunjukkan Kalimantan Tengah termasuk provinsi yang paling sering mati listrik, lebih dari sepuluh kali dalam setahun.

Dalam setahun, sebanyak 76,1 persen rumah tangga yang menggunakan listrik dari PLN di Kalimantan Tengah dan 80,7 persen di Gorontalo mengalami pemadaman listrik lebih dari sepuluh kali. Sulawesi Utara, Riau, Lampung dan Nusa Tenggara Timur nasibnya hampir sama, sulit menikmati aliran listrik PLN tanpa gangguan.

Jawa-Bali termasuk yang paling "aman", kurang dari 20 persen rumah tangga yang mengalami pemadaman lebih dari sepuluh kali sepanjang 2016. Di luar Jawa, hanya Sulawesi Selatan dan Sumatera Barat. Sekitar seperempat dari total provinsi di Indonesia.

Menurut data BPS, pemad aman bergilir ini merupakan dampak operasional kegiatan PLN seperti penambahan peralatan jaringan, pemeliharaan preventif pembangkit, penggantian kabel konduktor transmisi 150 KV jaringan dan gardu.

Meski demikian, warga Kelurahan Oepura, Kupang, NTT, Resty Victoria Fanggidae (27), menyatakan listrik mati sudah berkurang dibanding tahun sebelumnya lantaran pembangunan pembangkit listrik di pelabuhan.

"Tahun sebelumnya hampir setiap hari mati lampu, mesin rusak. Kalau mati lampunya sudah dari dulu, mungkin sekitar 10 tahunan," kata perempuan yang bekerja sebagai dokter di salah satu Puskesmas di Kupang ini.

Pada akhir 2016, Kapal Terapung Pembangkit Listrik (Marine Vessel Power Plant) dan Pembangkit Listrik Tenaga Uap di Bolok sudah mulai beroperasi dan mengalirkan sedikitnya 60 megawatt listrik ke pelanggan rumah tangga di Kupang.

Defisit pasokan listrik

Data Statistik Ketenagalistrikan 2015 dari Direktorat Jenderal Ketenagalistrikan Ke menterian Energi dan Sumber Daya Mineral menunjukkan cadangan listrik di sejumlah daerah masih defisit.

Kapasitas terpasang (power plant) di Indonesia mencapai 55,5 ribu megawatt, terdiri dari pembangkit listrik PLN 38,3 ribu megawatt dan non-PLN sebanyak 17,2 ribu megawatt. Sementara itu, daya mampu kapasitas terpasang dari PLN hanya 33,7 ribu megawatt untuk seluruh Indonesia.

Di Kalimantan Tengah, hanya ada satu Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) yang memiliki daya sebesar 44,18 megawatt. Sistem kelistrikan di provinsi ini dipasok dari sistem interkoneksi 150 kilovolt Barito melalui beberapa gardu induk seperti di Selat, Pulang Pisau, Palangkaraya, Kasongandan, dan Sampit.

Sementara di Gorontalo hanya ada pembangkit listrik tenaga air, diesel, surya dan angin yang daya mampu listriknya masing-masing 1,10 megawatt, 15,32 megawatt, 0,61 dan 0,08 megawatt.

Kesenjangan infrastruktur tersebut, membuat pemadaman listrik paling banyak terjadi di daerah perdesaan daripada perkotaan. Sebanyak 34 persen dari total rumah tangga di desa yang menggunakan sumber listrik dari PLN mengalami hal tersebut.

Bandingkan dengan 20,5 persen dari total rumah tangga pelanggan PLN di perkotaan di Indonesia mengalami mati listrik sebanyak lebih dari sepuluh kali pada 2016. Di wilayah perkotaan ini, kejadian mati listrik terbanyak "hanya" satu hingga lima kali setahun.

"Di luar Pulau Jawa memang masih banyak cadangan listrik yang defisit jadi kalau tidak sering byar pet (mati listrik) malah aneh. Kasusnya adalah permintaan lebih tinggi dari listrik yang tersedia. Kalau tidak, pembangunan PLTU dan kapasitas lebih sedikit dari permintaan," kata pakar energi dan listrik, Beryl Martawardaya, kepada Beritagar.id.

Megaproyek listrik dan risikony a

Pada 2015, Presiden Joko Widodo menargetkan proyek pasokan listrik tambahan sebanyak 35.000 megawatt di seluruh Indonesia sampai 2019. Menurut perhitungan tim Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL), rata-rata pertumbuhan kebutuhan listrik mencapai 8,7 persen per tahun.

Alhasil, pemerintah menggalakkan penambahan kapasitas listrik 7.000 megawatt per tahunnya selama lima tahun. PLN kebagian 10.000 megawatt, dan swasta sebesar 25.000 megawatt. Namun megaproyek ini menuai kritik lantaran PLN dinilai membahayakan keuangan negara setelah kas perusahaan tak mampu membiayai proyek tersebut.

"Harusnya memang beda perhitungannya, analisis dibedakan mana antara pengeluaran kapital dan operasional. Masa ekspansi dan penambahan jaringan baru pasti banyak pengeluaran tambahan. Biaya ekspansi ditutup dengan penyertaan modal negara," ujar Beryl.

Selain persoalan keuangan, proyek listrik ini juga menuai kritik dari aktivis lingkungan hidup. Wahana Lingkungan Hidup (WALHI) melalui rilis resmi di situs mereka menjelaskan PLTU batubara berdampak kesehatan dan lingkungan.

"Program yang berjalan harus dirombak total. PLTU batubara mengakibatkan dampak nyata terhadap kesehatan, sosial ekonomi dan lingkungan. Pada akhirnya biaya harus ditanggung masyarakat dan negara," kata Manajer Kampanye Urban dan Energi Walhi Indonesia, Dwi Sawung, seperti dikutip dalam situs WALHI.

PLTU batubara dinilai dapat meningkatkan emisi partikel halus (PM 2,5), gas rumah kaca, dan polutan lainnya. Studi Greenpeace Indonesia bertajuk The Human Cost of Coal menyingkap dampak kesehatan yang diakibatkan PLTU batubara apabila beroperasi dengan total 45.365 megawatt, yakni Rp351 triliun saban tahun operasional.

Studi dari Shannon N. Koplitz dan koleganya dari Universitas Harvard, Amerika Serikat berjudul Burden of Disease from Rising Coal-Fired Power Plant Emissions in Southeast Asia bahkan menyebut potensi kematian dini 24.000 ora ng dewasa yang dipicu penyakit stroke, jantung, paru-paru, dan tenggorokan akibat polusi pembakaran batubara.

Sumber: Google News | Warta 24 Gorontalo Utara

Next
« Prev Post
Previous
Next Post »